Kurikulum Merdeka menuntut inovasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Salah satu peran penting yang diemban pengawas sekolah adalah memastikan penerapan model pembelajaran yang cocok dan ideal dengan perkembangan peserta didik, seperti pembelajaran berbasis proyek (Project-based Learning) dan pembelajaran berdiferensiasi. Dalam kenyataannya, praktik pembelajaran seringkali ditemukan berbagai kendala yang menghambat proses transformasi dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
Tantangan dalam Penerapan
Pembelajaran Inovatif
- Keterbatasan Pengetahuan dan Keterampilan: Kepala sekolah dan guru masih banyak yang merasa
kurang siap dalam menerapkan pembelajaran yang berinovasi. Hal ini
disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan keterampilan terkait metode
pembelajaran dan asesmen yang baru.
- Ketergantungan pada Penilaian Tulis: Guru cenderung lebih nyaman menggunakan penilaian
tulis sebagai satu-satunya instrumen penilaian, padahal penilaian autentik
seperti observasi, proyek, dan portofolio juga sangat penting untuk
mengukur kemampuan peserta didik secara komprehensif.
- Keterbatasan Sumber Daya dan Dukungan Teknis: Beberapa sekolah masih terkendala dengan keterbatasan
sumber daya, baik itu sumber daya manusia maupun sarana prasarana, yang diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran yang inovatif.
Solusi yang Dapat Diterapkan
- Pengembangan Profesional Berkelanjutan: Pengawas sekolah perlu secara aktif mengadakan pelatihan dan
pengembangan profesional yang berfokus pada metode pembelajaran dan
asesmen yang relevan dengan Kurikulum Merdeka. Pelatihan ini dapat
mencakup pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berdiferensiasi, dan
penilaian autentik.
- Pendekatan Kolaboratif: Pengawas sekolah perlu membangun kolaborasi yang kuat dengan
kepala sekolah dan guru. Melalui pendekatan kolaboratif, pengawas sekolah dapat
memberikan dukungan, bimbingan, dan motivasi kepada guru dalam menerapkan
pembelajaran yang inovatif.
- Pemanfaatan Teknologi: Pengawas sekolah dapat memotivasi guru dan kepala sekolah agar menggunakan perkembangan teknologi dalam
proses pembelajaran dan asesmen. Dengan memanfaatkan teknologi,
pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan interaktif, serta memudahkan
dalam mengelola data hasil asesmen.
Peran Pengawas Sekolah sebagai Fasilitator
Perubahan
Untuk mengatasi tantangan tersebut,
pengawas sekolah memiliki peran yang sangat penting sebagai fasilitator perubahan.
Pengawas perlu:
- Menjadi Model:
Pengawas sekolah perlu menjadi contoh bagi guru dengan menunjukkan praktik-praktik
terbaik dalam pembelajaran.
- Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif: Pengawas sekolah perlu memberikan umpan balik yang konstruktif
kepada kepala sekolah dan guru setelah setelah kepala sekolah melakukan observasi kelas. Umpan balik ini dapat
berupa saran perbaikan atau penguatan terhadap praktik yang sudah baik.
- Membangun Komunitas Belajar: Pengawas sekolah dapat memfasilitasi terbentuknya komunitas belajar di antara guru dan memfasilitasi kegiatan komunitas untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Penerapan pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berdiferensiasi merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan Kurikulum Merdeka. Peran pengawas sekolah sangat penting untuk memotivasi dan memfasilitasi proses transformasi pembelajaran di sekolah. Dengan dukungan yang tepat, kepala sekolah dan guru dapat mengatasi berbagai kendala dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik. {Abusyix}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar