Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah berani dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, seperti halnya perubahan besar lainnya, proses ini tidak lepas dari berbagai tantangan dan kendala. Tulisan berikut akan mengulas sedikit mengenai proses perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka di sekolah, termasuk kendala yang dihadapi, solusi yang telah diberikan, serta implikasi bagi perbaikan di masa yang akan datang.
Proses Perencanaan Pembelajaran
Dalam upaya mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, berbagai upaya telah dilakukan. Proses tersebut adalah sebagai berikut.
- Kreasi Program Sekolah: Sekolah merancang program sekolah
yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kebutuhan masyarakat, sekaligus
memenuhi regulasi Kurikulum Merdeka.
- Penyusunan Perangkat Pembelajaran:
Guru menyusun Perangkat Pembelajaran yang
fleksibel dan berpusat pada peserta didik, serta mengakomodasi berbagai model
pembelajaran.
- Umpan Balik Konstruktif: Kepala sekolah berperan aktif dalam memberikan umpan
balik kepada guru berdasarkan hasil observasi kelas, sehingga proses
pembelajaran dapat terus ditingkatkan.
Kendala yang Dihadapi
Meskipun upaya penyusunan perangkat pembelajaran telah
dilakukan secara intensif, namun masih terdapat beberapa kendala yang
menghambat proses perencanaan pembelajaran:
- Keterbatasan Pemahaman: Banyak guru dan kepala sekolah masih kesulitan
memahami konsep-konsep dasar Kurikulum Merdeka dan cara
mengimplementasikannya secara efektif dalam pembelajaran.
- Keterbatasan Fasilitas Teknologi: Kurangnya ketersediaan fasilitas teknologi di sekolah
menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dan
pemanfaatan sumber daya digital.
- Resistensi terhadap Perubahan: Sebagian guru dan kepala sekolah merasa lebih nyaman
dengan kurikulum dan metode pembelajaran sebelumnya, sehingga cenderung
resisten terhadap perubahan.
Solusi yang Telah Diterapkan
Untuk mengatasi kendala-kendala
tersebut, berbagai solusi telah dan terus dilakukan:
- Peningkatan Kompetensi Guru: Pelatihan dan workshop secara berkala diselenggarakan
untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai Kurikulum Merdeka dan
keterampilan dalam merancang pembelajaran yang inovatif.
- Kolaborasi yang Kuat:
Dilakukan upaya untuk memperkuat kolaborasi antara guru, kepala sekolah,
dan pengawas dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.
- Peningkatan Akses terhadap Sumber Daya: Dinas Pendidikan bekerja sama dengan berbagai pihak
untuk memastikan bahwa setiap sekolah memiliki akses yang memadai terhadap
sumber daya yang dibutuhkan, termasuk teknologi.
- Pendekatan Persuasif:
Untuk mengatasi resistensi, digunakan pendekatan persuasif melalui
komunikasi terbuka dan pemberian contoh-contoh keberhasilan implementasi
Kurikulum Merdeka di sekolah lain.
Implikasi dan Saran
Hasil refleksi ini menunjukkan bahwa
implementasi Kurikulum Merdeka masih membutuhkan
perhatian yang lebih serius. Beberapa saran yang dapat diajukan antara lain:
- Penguatan Pendampingan: Pendampingan kepada guru dan kepala sekolah perlu
terus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan, dengan fokus pada
peningkatan praktik pembelajaran di kelas.
- Pemanfaatan Teknologi: Perlu dilakukan upaya untuk mempercepat digitalisasi
sekolah, sehingga pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan sumber daya
digital dapat dilaksanakan secara optimal.
- Pengembangan Kurikulum Lokal: Kurikulum Merdeka perlu disesuaikan dengan karakteristik
dan potensi daerah, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan
bermakna bagi siswa.
- Evaluasi yang Berkala: Perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka, sehingga dapat diketahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dan kendala apa saja yang masih perlu diatasi.
Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah yang sangat positif dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun masih terdapat berbagai tantangan,
namun dengan upaya yang terus-menerus dan kolaborasi yang kuat, diharapkan
implementasi Kurikulum Merdeka dapat berlangsung dengan sukses dan memberikan
manfaat yang besar bagi seluruh peserta didik. (Abusyix)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar