Sabtu, 28 September 2024

SMP Negeri 1 Muara Batu Menuju Sekolah Sehat

SMP Negeri 1 Muara Batu sedang berbenah dan menata diri menjadi sekolah yang lebih sehat dan nyaman bagi semua warga sekolah. Upaya ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya lingkungan belajar yang bersih dan mendukung kesehatan siswa, guru, serta seluruh warga sekolah.

Menurunnya kesadaran akan kebersihan lingkungan, kurangnya perhatian terhadap kesehatan diri, dan kebiasaan jajan tidak sehat menjadi perhatian utama. Melalui program sekolah sehat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa dan warga sekolah akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Tujuan akhir dari program ini adalah menciptakan sekolah yang bersih, sehat, dan menjadi contoh bagi sekolah lainnya.

Program sekolah sehat yang dilaksanakan ini sesuai dengan tuntutan dari peraturan dan perundang-undangan yang berhunungan langsung dengan peningkatan kesehatan peserta didik. Ada beberapa indikator yang yang diharapkan yaitu sekolah bersih bebas dari sampah, memiliki sirkulasi udara yang  baik dan mencukupi. Siswa terbiasa makan makanan sehat, minum air putih, dan berolahraga secara teratur. Siswa terbiasa mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan diri.

Untuk mencapai tujuan program sekolah sehat di SMP Negeri 1 Muara Batuu,sekolah melakukan upaya-upaya seperti melaksanakan sosialiisasi, mengadakan lomba kebersihan kelas,  dan pembinaan karakter.Sekolah juga memperbaikan toilet, penyediaan tempat sampah yang memadai, dan pembuatan kantin sehat. Upaya lain yaitu melalui kegiatan piket kelas, penanaman tanaman obat keluarga, dan pembuatan pupuk kompos. Namun, yang sangat penting adalah kolaborasi dengan orang tua yaitu dengan mengadakan pertemuan rutin dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak.

Setiap program yang dilaksanakan selalu mengalami hambatan dan tantangan. Salah satu hambatan yang sangat menantang adalah mengubah pola jajan peserta didik yang sudah membudaya yaitu suka makan jajanan yang kurang hugienis. Untuk mengatasi hal ini, sekolah bekerja sama dengan kantin untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi. Selain itu, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi konsumsi makanan anak di rumah.

Program sekolah sehat yang menjadi program perioritas SMP Negeri 1 Muara Batu Kabupaten Aceh Utara merupakan aksi nyata dalam menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas. Dengan dukungan dari semua warga sekolah, program ini diharapkan dapat berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat. (Abusyix).

Rabu, 25 September 2024

Dinas Pendidikan Aceh Utara Dorong Penguatan Kurikulum Merdeka

Aceh Utara – Dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMP, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Jamaluddin, S.Sos., M.Pd., memberikan arahan terkait penguatan implementasi Kurikulum Merdeka.

Jamaluddin menyampaikan bahwa meskipun sudah banyak sekolah yang melaksanakan kurikulum merdeka pada tahun pelajaran 2024/2025, namun kualitas implementasinya masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, beliau mendorong para kepala sekolah untuk lebih aktif melibatkan guru penggerak dalam kegiatan pengembangan profesionalisme guru, baik di sekolah yang dipimpinnya maupun antar sekolah.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara terus mendorong implementasi Kurikulum Merdeka. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas, Jamaluddin, dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMP yang digelar di SMP Negeri 7 Sawang, Rabu (25/9).

Jamaluddin mengungkapkan bahwa meskipun secara kuantitas hampir semua satuan pendidikan di Aceh Utara telah menerapkan Kurikulum Merdeka, namun secara kualitas masih perlu ditingkatkan. Salah satu indikatornya adalah pembelajaran yang belum sepenuhnya berpusat pada peserta didik.

Untuk mengatasi hal ini, Jamaluddin menekankan pentingnya penguatan kapasitas pendidik melalui komunitas belajar. Beliau juga menyoroti pentingnya pembelajaran dan asesmen yang bervariasi serta pembelajaran yang berdiferensiasi.

"Guru penggerak harus lebih aktif mengimbas di sekolahnya masing-masing," tegas Jamaluddin.

Selain itu, Jamaluddin juga menyampaikan bahwa satuan pendidikan di Aceh Utara memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum satuan pendidikan berdasarkan kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian. Beliau juga menekankan pentingnya menyediakan layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Dalam kesempatan yang sama, Jamaluddin juga memperkenalkan "Seri Belajar Bersama", sebuah inovasi baru di Platform Merdeka Mengajar yang dapat digunakan oleh komunitas belajar untuk meningkatkan kapasitas guru. (Abusyix)

Kamis, 19 September 2024

Pendidik Ideal: Reflektif, Gemar Belajar, Berbagi, dan Berkolaborasi

Pendidik yang ideal tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga memiliki karakteristik yang mendukung proses pembelajaran yang efektif. Profil pendidik yang diharapkan daam kurikulum merdeka adalah mereka yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi.

Pendidik reflektif senantiasa mengevaluasi praktik pengajarannya. Mereka tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Melaksanakan refleksi secara rutin dan berkala, pendidik dapat mengidentifikasi akar masalah yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Perbaikan pembelajaran perlu dilakukan terus-menerus tanpa henti.

Dalam melakukan refleksi kadang kala pendidik sulit untuk mengevaluasi diri secara objektif dan keterbatasan waktu seringkali menjadi hambatan. Untuk itu pendidik perlu mengalokasikan waktu khusus untuk refleksi, gunakan jurnal refleksi, dan minta umpan balik dari rekan sejawat atau kepala sekolah.

Pendidik yang ideal adalah gemar belajar atau pembelajar sepanjang hayat. Mereka terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai cara, seperti pelatihan, pendidikan profesional, dan membaca literatur pendidikan. Saat ini pengetahuan terus berkembang dengan pesat dan terjadi pembaruan setiap saat.

Kesibukan tugas sehari-hari seringkali menyulitkan pendidik untuk meluangkan waktu belajar. Jadi, pendidik perlu membuat jadwal belajar yang konsisten, manfaatkan sumber belajar online, dan prioritaskan pelatihan yang relevan.

Pendidik yang berbagi tidak hanya menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri, tetapi juga aktif menyebarluaskannya kepada rekan sejawat melalui berbagai cara, seperti workshop, menulis artikel di media online, atau forum diskusi di komunitas belajar.

Kurangnya motivasi dan rasa enggan untuk berbagi dengan rekan kerja yang mungkin tidak terbuka terhadap masukan menjadi kendala dalam berbagi. Bangun budaya berbagi yang positif di lingkungan kerja, gunakan platform yang mendukung kolaborasi, dan komunikasikan manfaat berbagi pengetahuan bisa jadi alternatif pemecahan kendala tersebut.

Pendidik yang berkolaborasi bekerja sama dengan rekan sejawat dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kolaborasi ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bervariatif.

Kendala yang mungkin muncul dalam berkolaborasi adalah mengelola dinamika kelompok dan konflik yang mungkin muncul selama kolaborasi. Namun kendala tersebut bisa diatasi dengan menetapkan peran dan tanggung jawab yang jelas dalam tim, fasilitasi komunikasi terbuka, dan adakan sesi tanya jawab untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Pendidik yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi adalah aset berharga bagi dunia pendidikan. Dengan terus mengembangkan diri dan bekerja sama dengan rekan sejawat, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan inspiratif bagi peserta didik.

Untuk mewujudkan profil pendidik ideal, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kepala sekolah, pengawas sekolah, Dinas Pendidikan/Pemerintah, dan masyarakat. Dukungan ini dapat berupa penyediaan fasilitas belajar yang memadai, kesempatan pengembangan profesional, dan apresiasi atas kontribusi pendidik. (Abusyix)

Selasa, 17 September 2024

Kepemimpinan Kepala Sekolah: Pilar Utama Komunitas Belajar di Sekolah

Kepala sekolah berperan sebagai jantung dari satu sekolah. Kepemimpinan yang kuat dan visioner dari kepala sekolah menjadi kunci keberhasilan dalam membangun dan mengembangkan komunitas belajar yang dinamis di sekolah tersebut. Mengapa demikian? Beberapa alasan mengapa kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam mengembangkan Komunitas Belajar di sekolah dapat diuraikan sebagai berikut.

Visi dan Misi yang Jelas:
Kepala sekolah yang telah merumuskan visi dan misi yang jelas bersama guru tentang pembelajaran akan mampu menginspirasi guru dan staf. Guru dan staf akan  bekerja sama menuju tujuan yang sama. Visi ini harus sejalan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan pendidikan terkini.

Membudayakan Budaya Belajar: 
Kepala sekolah berperan dalam menciptakan budaya sekolah yang mendorong semangat belajar terus-menerus, baik bagi guru maupun siswa. Budaya belajar yang inovatif akan mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif untuk berbagi ide, berkolaborasi, dan berkemband dalam komunitas.

Fokus pada Pengembangan Profesional Guru:
Kepala sekolah yang berkomitmen pada pengembangan profesional guru akan menyediakan berbagai peluang bagi guru untuk meningkatkan kompetensinya. Komunitas belajar yang solid dan kompak akan menjadi tempat bagi guru dan staf untuk saling belajar dan berkolaborasi untuk berbagi pengalaman.

Membangun Kepercayaan dan Kolaborasi:
Kepala sekolah yang mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang baik dengan semua anggota sekolah akan menciptakan iklim kerja yang positif dan kolaboratif. Kepercayan dan Kolaborasi antara guru, staf, dan peserta didik adalah kunci keberhasilan dalam membangun komunitas belajar di sekolah.

Menjadi Role Model:
Kepala sekolah harus menjadi contoh bagi guru dan siswa dalam hal semangat belajar, inovasi, dan kepemimpinan. Aksi nyata berbagi praktik baik kepala sekolah akan lebih berdampak daripada sekedar kata-kata.

Memberikan Dukungan yang Cukup:
Kepala sekolah perlu memberikan dukungan yang cukup dalam bentuk sumber daya, waktu, dan fasilitas untuk kegiatan komunitas belajar. Dukungan yang konsisten akan mendorong guru untuk lebih aktif terlibat dalam komunitas belajar.

 

Aksi Nyata Kepala Sekolah dalam Mengembengkan Komunitas Belajar

Mengadakan pertemuan rutin: Menyediakan waktu khusus untuk pertemuan komunitas belajar secara berkala.

Memfasilitasi kegiatan pengembangan profesional: Mengorganisir pelatihan, workshop, atau studi banding untuk guru.

Menciptakan ruang fisik yang mendukung: Menyediakan ruang yang nyaman dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kegiatan komunitas belajar.

Mendorong inovasi: Memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen dengan metode pembelajaran yang baru.

Memberikan umpan balik yang konstruktif: Memberikan umpan balik yang membangun kepada guru untuk meningkatkan praktik pembelajaran mereka.

Merayakan keberhasilan:  Kepala sekolah perlu mengakui dan memberi penghargaan atas kontribusi setiap anggota komunitas belajar.

Tantangan dan Alternatif Solusinya

Kurangnya waktu: Kepala sekolah seringkali memiliki banyak tugas dan tanggung jawab di luar sekolah. Alternatif solusi: Kepala sekolah memrioritaskan kegiatan komunitas belajar dan mendelegasikan tugas-tugas lain yang memungkinkan dilaksanakan oleh wakil kepala sekolah atau guru yang sesuai bidang tugas.

Resistensi dari guru: Beberapa guru mungkin enggan untuk terlibat dalam komunitas belajar. Alternatif solusi: Libatkan guru dalam perencanaan kegiatan, berikan dukungan yang memadai, dan tunjukkan manfaat dari komunitas belajar.

Kurangnya sumber daya: Sekolah mungkin memiliki keterbatasan sumber daya. Alternatif solusi: Cari alternatif sumber daya, seperti memanfaatkan teknologi atau bekerja sama dengan komite dan orang tua siswa atau bekerja sama dengan komunitas lain di luar sekolah.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun komunitas belajar yang efektif. Dengan visi yang jelas, dukungan yang kuat, dan tindakan yang nyata, kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa. Komunitas belajar yang solid akan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan. (Abusyix)

Sabtu, 14 September 2024

Tanggapan Guru tentang Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka yang dicanangkan oleh Nadiem Makarim telah membawa perubahan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan kemampuan siswa secara holistik, dengan fokus pada pembelajaran yang aktif, berpusat pada siswa, dan relevan dengan kehidupan nyata. Namun, dalam praktik nyata di sekolah, para guru masih banyak  menghadapi tantangan dan hambatan, guru juga berusaha untuk menemukan berbagai solusi.

Proses Pembelajaran yang Lebih Menarik

Salah satu kelebihan dan keunggulan Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru berupaya menciptakan suasana belajar yang aktif dan kontekstual sesuai dengan kondisi di lingkungan siswa, di mana siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan.

Pembelajaran berdiferensiasi juga menjadi sorotan dalam Kurikulum Merdeka. Guru menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga perlu adanya penyesuaian metode dan materi pembelajaran. Melalui proyek-proyek kelompok dan aktivitas yang bervariasi, siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu inovasi dalam Kurikulum Merdeka. P5 ini bertujuan untuk mengembangkan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Namun, dalam pelaksanaannya, guru masih terus mencari cara yang efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap pembelajaran.

Asesmen yang Lebih Holistik

Kurikulum Merdeka juga membawa perubahan pada sistem asesmen. Asesmen formatif dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Asesmen sumatif digunakan untuk mengukur pencapaian siswa di akhir periode pembelajaran, sedangkan asesmen otentik menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang relevan dengan kehidupan nyata.

Penilaian keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas juga menjadi bagian penting dalam Kurikulum Merdeka. Guru mendorong siswa untuk menggunakan portofolio dan refleksi diri untuk menunjukkan perkembangan kemampuan mereka.

Tantangan dan Solusi

Meskipun Kurikulum Merdeka menawarkan banyak manfaat, para guru juga menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasinya. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memfasilitasi pembelajaran yang aktif dan kontekstual bagi semua siswa. Selain itu, guru juga perlu menyesuaikan metode dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan dan karakter yang beragam dari siswa.

Tantangan lainnya adalah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran. Guru perlu menemukan cara yang praktis untuk menggabungkan nilai-nilai tersebut dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari di kelas.

Dalam hal asesmen, guru menghadapi kesulitan dalam mendesain dan mengukur keterampilan praktis siswa. Selain itu, mengatur asesmen yang sesuai untuk setiap siswa juga menjadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, guru telah melakukan berbagai upaya. Beberapa di antaranya adalah memulai dengan aktivitas pembelajaran yang sederhana, menggunakan asesmen awal untuk mengetahui titik awal kemampuan siswa, serta mengikuti pelatihan dan memanfaatkan teknologi yang relevan. Guru juga mengembangkan rubrik penilaian yang terperinci dan melakukan kolaborasi dengan guru mata pelajaran lain.

Kesimpulan

Kurikulum Merdeka diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan. Meskipun masih banyak tantangan yang perlu diatasi, para guru terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi siswa. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Kurikulum Merdeka dapat mewujudkan tujuannya untuk menciptakan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dan perubahan di masa depan. (Abusyix)

Selasa, 10 September 2024

Menyusun Perangkat Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Solusi

Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan langkah krusial dalam proses belajar-mengajar. Kurikulum Merdeka dengan fleksibilitasnya memberikan otonomi yang lebih besar kepada guru dalam merancang pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa. Namun, dalam praktiknya, guru seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam menyusun perangkat pembelajaran yang efektif.

Tahapan Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Proses penyusunan perangkat pembelajaran umumnya mencakup beberapa tahap, yaitu:

  1. Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP): Menganalisis kurikulum, menentukan CP yang spesifik, dan merumuskan kompetensi yang harus dicapai siswa.
  2. Perancangan Alur Pembelajaran: Mengidentifikasi tema dan topik, memetakan materi, dan mengembangkan alur pembelajaran yang menarik.
  3. Penyusunan Strategi Pembelajaran: Memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai, serta menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
  4. Perancangan Asesmen: Merancang asesmen formatif dan sumatif untuk memantau dan mengukur pencapaian siswa.
  5. Pengembangan Bahan Ajar: Memilih sumber belajar yang relevan dan menyusun modul ajar yang menarik.
  6. Penilaian Otentik: Mengembangkan rubrik penilaian dan mengimplementasikan penilaian yang otentik.
  7. Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Merancang kegiatan pembelajaran yang dapat mengembangkan semua aspek profil pelajar Pancasila.
  8. Refleksi dan Revisi: Melakukan evaluasi dan revisi terhadap perangkat pembelajaran.
  9. Kolaborasi dan Pengembangan Profesional: Bekerja sama dengan rekan sejawat dan mengikuti pengembangan profesional.

Tantangan yang Dihadapi Guru

Dalam menerapkan Kurikulum Merdeka, guru seringkali menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Pemahaman CP yang luas: CP dalam Kurikulum Merdeka bersifat lebih luas dan fleksibel, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam kompetensi konkret yang harus dicapai siswa.
  • Pembelajaran berdiferensiasi: Mengakomodasi kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa yang beragam merupakan tantangan, terutama dalam kelas yang besar.
  • Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Menggabungkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran sehari-hari membutuhkan contoh konkret dan panduan yang jelas.
  • Keterbatasan sumber daya: Keterbatasan akses terhadap bahan ajar yang berkualitas dan teknologi dapat menghambat proses pembelajaran.
  • Perbedaan pemahaman terhadap Kurikulum Merdeka: Tidak semua guru memiliki pemahaman dan komitmen yang sama terhadap Kurikulum Merdeka.

Solusi yang Dilakukan Guru

Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru telah melakukan beberapa upaya, seperti:

  • Mengikuti pelatihan dan bergabung dalam Komunitas : Guru mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka dan berdiskusi dengan rekan sejawat dalam Komunitas untuk meningkatkan pemahaman.
  • Menggunakan asesmen diagnostik: Guru melakukan asesmen diagnostik di awal semester untuk mengetahui kemampuan dan minat siswa.
  • Menggabungkan kegiatan sehari-hari: Guru menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa untuk memperkuat nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.
  • Membuat rubrik penilaian yang jelas: Guru membuat rubrik penilaian yang jelas dan membahasnya dengan siswa agar siswa memahami kriteria penilaian.
  • Memanfaatkan sumber daya lokal: Guru memanfaatkan sumber daya manusia dan lingkungan sekitar untuk mendukung pembelajaran.
  • Kolaborasi dengan rekan sejawat: Guru bekerja sama dengan rekan sejawat yang memiliki komitmen yang sama terhadap Kurikulum Merdeka.

Kesimpulan

Penyusunan perangkat pembelajaran di era Kurikulum Merdeka memang penuh tantangan. Namun, dengan komitmen yang kuat, dukungan dari berbagai pihak, serta upaya yang terus-menerus, guru dapat mengatasi tantangan tersebut dan menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. (Abusyix)

  

Senin, 09 September 2024

SMPN 1 Sawang Aceh Utara Sukses Gelar ANBK Hari Pertama

Aceh Utara – Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) untuk tahun pelajaran 2024/2025kembali digelar secara nasioanal. SMP Negeri 1 Sawang, Aceh Utara, menjadi salah satu sekolah yang sukses melaksanakan kegiatan tersebut. Pada hari Senin (9/9/2024), sebanyak 45 siswa kelas VIII mengikuti ANBK dengan moda semi online.

ANBK yang dilaksanakan di satu ruang komputer ini bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan di sekolah. Peserta yang terdiri dari 27 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan, mengikuti ujian dalam tiga sesi. Masing-masing sesi diikuti 15 peserta. Untuk menjaga integritas pelaksanaan, ruang ANBK hanya boleh dimasuki oleh peserta, proktor, teknisi, dan pengawas ruang. Menariknya, pengawas ruang yang bertugas berasal dari sekolah lain untuk memastikan objektivitas penilaian.

Pilihan siswa kelas VIII sebagai peserta ANBK memiliki tujuan strategis. Pemerintah berharap dengan dilaksanakannya ANBK, kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah dapat ditingkatkan dan menghasilkan lulusan yang lebih baik. Dengan demikian, siswa dapat merasakan dampak positif dari perbaikan tersebut sebelum mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sawang, Nursyidah Mukhtar, M.Pd mengungkapkan bahwa. “Sekolah telah melakukan persiapan yang maksimal untuk menyukseskan pelaksanaan ANBK ini. Kerjasama dengan penyedia jaringan internet dan listrik menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Pihak sekolah juga telah menyiapkan genset sebagai langkah antisipasi jika terjadi pemadaman listrik mendadak”.

ANBK di SMP Negeri 1 Sawang akan berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 9 dan 10 September 2024. Keberhasilan pelaksanaan ANBK ini tentu menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan di Aceh Utara, khususnya SMP Negeri 1 Sawang. (Abusyix)

Sabtu, 07 September 2024

Aceh Kehilangan Sosok Ulama dan Politikus Sejati, Tu Sop

Selasa, 03 September 2024

Refleksi Perencanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah berani dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, seperti halnya perubahan besar lainnya, proses ini tidak lepas dari berbagai tantangan dan kendala. Tulisan berikut akan mengulas sedikit mengenai proses perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka di sekolah, termasuk kendala yang dihadapi, solusi yang telah diberikan, serta implikasi bagi perbaikan di masa yang akan datang.

Proses Perencanaan Pembelajaran

Dalam upaya mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, berbagai upaya telah dilakukan. Proses tersebut adalah sebagai berikut.

  • Kreasi Program Sekolah: Sekolah merancang program sekolah yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kebutuhan masyarakat, sekaligus memenuhi regulasi Kurikulum Merdeka.
  • Penyusunan Perangkat Pembelajaran: Guru menyusun Perangkat Pembelajaran yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik, serta mengakomodasi berbagai model pembelajaran.
  • Umpan Balik Konstruktif: Kepala sekolah berperan aktif dalam memberikan umpan balik kepada guru berdasarkan hasil observasi kelas, sehingga proses pembelajaran dapat terus ditingkatkan.

Kendala yang Dihadapi

Meskipun upaya penyusunan perangkat pembelajaran telah dilakukan secara intensif, namun masih terdapat beberapa kendala yang menghambat proses perencanaan pembelajaran:

  • Keterbatasan Pemahaman: Banyak guru dan kepala sekolah masih kesulitan memahami konsep-konsep dasar Kurikulum Merdeka dan cara mengimplementasikannya secara efektif dalam pembelajaran.
  • Keterbatasan Fasilitas Teknologi: Kurangnya ketersediaan fasilitas teknologi di sekolah menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan sumber daya digital.
  • Resistensi terhadap Perubahan: Sebagian guru dan kepala sekolah merasa lebih nyaman dengan kurikulum dan metode pembelajaran sebelumnya, sehingga cenderung resisten terhadap perubahan.

Solusi yang Telah Diterapkan

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, berbagai solusi telah dan terus dilakukan:

  • Peningkatan Kompetensi Guru: Pelatihan dan workshop secara berkala diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman guru mengenai Kurikulum Merdeka dan keterampilan dalam merancang pembelajaran yang inovatif.
  • Kolaborasi yang Kuat: Dilakukan upaya untuk memperkuat kolaborasi antara guru, kepala sekolah, dan pengawas dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.
  • Peningkatan Akses terhadap Sumber Daya: Dinas Pendidikan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa setiap sekolah memiliki akses yang memadai terhadap sumber daya yang dibutuhkan, termasuk teknologi.
  • Pendekatan Persuasif: Untuk mengatasi resistensi, digunakan pendekatan persuasif melalui komunikasi terbuka dan pemberian contoh-contoh keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah lain.

Implikasi dan Saran

Hasil refleksi ini menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka masih membutuhkan perhatian yang lebih serius. Beberapa saran yang dapat diajukan antara lain:

  • Penguatan Pendampingan: Pendampingan kepada guru dan kepala sekolah perlu terus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan praktik pembelajaran di kelas.
  • Pemanfaatan Teknologi: Perlu dilakukan upaya untuk mempercepat digitalisasi sekolah, sehingga pembelajaran berbasis proyek dan pemanfaatan sumber daya digital dapat dilaksanakan secara optimal.
  • Pengembangan Kurikulum Lokal: Kurikulum Merdeka perlu disesuaikan dengan karakteristik dan potensi daerah, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna bagi siswa.
  • Evaluasi yang Berkala: Perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka, sehingga dapat diketahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dan kendala apa saja yang masih perlu diatasi.

Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan langkah yang sangat positif dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Meskipun masih terdapat berbagai tantangan, namun dengan upaya yang terus-menerus dan kolaborasi yang kuat, diharapkan implementasi Kurikulum Merdeka dapat berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi seluruh peserta didik. (Abusyix)