Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan langkah krusial dalam proses belajar-mengajar. Kurikulum Merdeka dengan fleksibilitasnya memberikan otonomi yang lebih besar kepada guru dalam merancang pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa. Namun, dalam praktiknya, guru seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam menyusun perangkat pembelajaran yang efektif.
Tahapan Penyusunan Perangkat
Pembelajaran
Proses penyusunan perangkat
pembelajaran umumnya mencakup beberapa tahap, yaitu:
- Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP): Menganalisis kurikulum, menentukan CP yang spesifik,
dan merumuskan kompetensi yang harus dicapai siswa.
- Perancangan Alur Pembelajaran: Mengidentifikasi tema dan topik, memetakan materi, dan
mengembangkan alur pembelajaran yang menarik.
- Penyusunan Strategi Pembelajaran: Memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai,
serta menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
- Perancangan Asesmen:
Merancang asesmen formatif dan sumatif untuk memantau dan mengukur
pencapaian siswa.
- Pengembangan Bahan Ajar: Memilih sumber belajar yang relevan dan menyusun modul
ajar yang menarik.
- Penilaian Otentik:
Mengembangkan rubrik penilaian dan mengimplementasikan penilaian yang
otentik.
- Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Merancang kegiatan pembelajaran yang dapat
mengembangkan semua aspek profil pelajar Pancasila.
- Refleksi dan Revisi:
Melakukan evaluasi dan revisi terhadap perangkat pembelajaran.
- Kolaborasi dan Pengembangan Profesional: Bekerja sama dengan rekan sejawat dan mengikuti
pengembangan profesional.
Tantangan yang Dihadapi Guru
Dalam menerapkan Kurikulum Merdeka,
guru seringkali menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
- Pemahaman CP yang luas: CP dalam Kurikulum Merdeka bersifat lebih luas dan
fleksibel, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam kompetensi konkret yang
harus dicapai siswa.
- Pembelajaran berdiferensiasi: Mengakomodasi kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa
yang beragam merupakan tantangan, terutama dalam kelas yang besar.
- Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Menggabungkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila
dalam pembelajaran sehari-hari membutuhkan contoh konkret dan panduan yang
jelas.
- Keterbatasan sumber daya: Keterbatasan akses terhadap bahan ajar yang
berkualitas dan teknologi dapat menghambat proses pembelajaran.
- Perbedaan pemahaman terhadap Kurikulum Merdeka: Tidak semua guru memiliki pemahaman dan komitmen yang
sama terhadap Kurikulum Merdeka.
Solusi yang Dilakukan Guru
Untuk mengatasi tantangan tersebut,
guru telah melakukan beberapa upaya, seperti:
- Mengikuti pelatihan dan bergabung dalam Komunitas : Guru mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka dan
berdiskusi dengan rekan sejawat dalam Komunitas untuk meningkatkan
pemahaman.
- Menggunakan asesmen diagnostik: Guru melakukan asesmen diagnostik di awal semester
untuk mengetahui kemampuan dan minat siswa.
- Menggabungkan kegiatan sehari-hari: Guru menghubungkan materi pembelajaran dengan
kehidupan sehari-hari siswa untuk memperkuat nilai-nilai Profil Pelajar
Pancasila.
- Membuat rubrik penilaian yang jelas: Guru membuat rubrik penilaian yang jelas dan
membahasnya dengan siswa agar siswa memahami kriteria penilaian.
- Memanfaatkan sumber daya lokal: Guru memanfaatkan sumber daya manusia dan lingkungan
sekitar untuk mendukung pembelajaran.
- Kolaborasi dengan rekan sejawat: Guru bekerja sama dengan rekan sejawat yang memiliki
komitmen yang sama terhadap Kurikulum Merdeka.
Kesimpulan
Penyusunan perangkat pembelajaran di era Kurikulum Merdeka memang penuh tantangan. Namun, dengan komitmen yang kuat, dukungan dari berbagai pihak, serta upaya yang terus-menerus, guru dapat mengatasi tantangan tersebut dan menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. (Abusyix)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar