Kurikulum Merdeka telah diluncurkan pelaksanaannya secara nasional oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim pada tanggal 11 Februari 2022. Kurikulum ini diyakini dapat menjadi inovasi dalam dunia pendidikan. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dan otonomi yang lebih besar bagi guru dalam merancang pembelajaran. Faktanya, guru seringkali mendapat berbagai rintangan dan hambatan, terutama dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep baru yang termaktub dalam Kurikulum Merdeka itu sendiri.
Salah satu rintangan yang dihadapi oleh
banyak guru adalah dalam menerjemahkan Capaian
Pembelajaran (CP) menjadiYujuan Pembelajaran (TP) yang konkret dan relevan. Banyak
guru masih terbiasa dengan struktur kurikulum sebelumnya. Guru kesulitan untuk
mengidentifikasi materi esensial yang perlu diajarkan. Hal ini menyebabkan materi
yang disampaikan belum sepenuhnya sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang
ingin dicapai. Untuk mengatasi hal tersebut guru perlu menganalisis kebutuhan peserta didik dengan memahami karakteristik
dan kebutuhan masing-masing peserta didik sehingga guru dapat merancang
pembelajaran yang lebih personal dan bermakna. Selain itu, guru dituntu untuk
lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran. Modul ajar yang disusun
harus dapat disesuaikan dengan perkembangan dan minat siswa.
Pembelajaran yang berdiferensiasi
merupakan salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka. Kenyataannya, belum semua
guru merasa nyaman dengan model pembelajaran ini. Keterbatasan akses terhadap
sumber belajar yang bervariati, terutama terkait dengan teknologi, menjadi
kendala utama.
Alternatif
Solusi yang dapat dilaksanakan guru adalah dengan mengidentifikasi profil peserta
didik, memanfaatkan teknologi dan mengikuti pelatihan baik secara mandiri
maupun komunitas. Mengindentifikasi
karakter peserta didik guru dapat memahami
gaya belajar, tingkat pemahaman, dan minatnya, demikian guru dapat memilih
model pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya. Pemanfaatkan Teknologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai
platform online untuk mencari referensi, contoh pembelajaran, dan alat-alat
bantu pembelajaran lainnya. Sedangkan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan
oleh Komunitas Belajar (Kombel) atau mengikuti webinar dapat membantu guru meningkatkan kompetensinya
dalam merancang pembelajaran yang efektif.
Kurikulum Merdeka juga memfokuskan
pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai salah satu komponen
penting. P5 bertujuan untuk mengembangkan karakter peserta didik sesuai dengan
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Namun, dalam pelaksanaannya, guru seringkali menghadapi
kendala dalam mengorganisir dan mengelola projek ini.
Melihat
kedala dan hambatan yang dihapi guru perlu kiranya diadakan program pelatihan yang berkelanjutan untuk
meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka. Pemerintah
dan sekolah perlu menyediakan akses yang lebih mudah bagi guru terhadap
berbagai sumber belajar, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Selain itu, Implementasi
Kurikulum Merdeka memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk kepala
sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Implementasi Kurikulum Merdeka
merupakan sebuah proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Guru sebagai ujung
tombak pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan
kurikulum ini. Dengan dukungan yang memadai dan upaya yang terus-menerus,
diharapkan Kurikulum Merdeka dapat mewujudkan tujuannya untuk menghasilkan
lulusan yang berkualitas dan berkarakter. (Abusyix)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar