Rabu, 02 Oktober 2024

Perspektif Guru Tentang Tantangan dan Solusi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka telah diluncurkan pelaksanaannya secara nasional oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim pada tanggal 11 Februari 2022. Kurikulum ini diyakini dapat menjadi inovasi dalam dunia pendidikan. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dan otonomi yang lebih besar bagi guru dalam merancang pembelajaran. Faktanya, guru seringkali mendapat berbagai rintangan dan hambatan, terutama dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep baru yang termaktub dalam Kurikulum Merdeka itu sendiri.

Salah satu rintangan yang dihadapi oleh banyak guru  adalah dalam menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) menjadiYujuan Pembelajaran (TP) yang konkret dan relevan. Banyak guru masih terbiasa dengan struktur kurikulum sebelumnya. Guru kesulitan untuk mengidentifikasi materi esensial yang perlu diajarkan. Hal ini menyebabkan materi yang disampaikan belum sepenuhnya sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang ingin dicapai. Untuk mengatasi hal tersebut guru perlu menganalisis kebutuhan peserta didik dengan memahami karakteristik dan kebutuhan masing-masing peserta didik sehingga guru dapat merancang pembelajaran yang lebih personal dan bermakna. Selain itu, guru dituntu untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran. Modul ajar yang disusun harus dapat disesuaikan dengan perkembangan dan minat siswa.

Pembelajaran yang berdiferensiasi merupakan salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka. Kenyataannya, belum semua guru merasa nyaman dengan model pembelajaran ini. Keterbatasan akses terhadap sumber belajar yang bervariati, terutama terkait dengan teknologi, menjadi kendala utama.

Alternatif Solusi yang dapat dilaksanakan guru adalah dengan mengidentifikasi profil peserta didik, memanfaatkan teknologi dan mengikuti pelatihan baik secara mandiri maupun komunitas.  Mengindentifikasi karakter peserta didik guru dapat memahami gaya belajar, tingkat pemahaman, dan minatnya, demikian guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya. Pemanfaatkan Teknologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform online untuk mencari referensi, contoh pembelajaran, dan alat-alat bantu pembelajaran lainnya. Sedangkan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar (Kombel) atau mengikuti webinar dapat membantu guru meningkatkan kompetensinya dalam merancang pembelajaran yang efektif.

Kurikulum Merdeka juga memfokuskan pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai salah satu komponen penting. P5 bertujuan untuk mengembangkan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Namun, dalam pelaksanaannya, guru seringkali menghadapi kendala dalam mengorganisir dan mengelola projek ini.

Melihat kedala dan hambatan yang dihapi guru perlu kiranya diadakan program pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka. Pemerintah dan sekolah perlu menyediakan akses yang lebih mudah bagi guru terhadap berbagai sumber belajar, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Selain itu, Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan sebuah proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan kurikulum ini. Dengan dukungan yang memadai dan upaya yang terus-menerus, diharapkan Kurikulum Merdeka dapat mewujudkan tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkarakter. (Abusyix)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar