Kamis, 07 November 2024

Budaya Bersalaman Merupakan Kunci Membangun Karakter di Sekolah

Budaya bersalaman setiap pagi telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan di hampir semua sekolah. Setiap hari, peserta didik dan guru saling berjabat tangan sebagai tanda sapa dan penghormatan.

Salam salaman ini bukan hanya sekedar kebiasaan, tetapi juga cara sekolah membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati. Selain menciptakan suasana yang hangat, kebiasaan ini juga dinilai efektif untuk meningkatkan kedisiplinan siswa dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Dalam upaya meningkatkan kedisiplinan dan mempererat hubungan antar warga sekolah, maka sekolah membudayakan tradisi salam-salaman di waktu pagi. Program ini biasanya dilaksanakan bagi semua pesrta didik dan guru setiap pagi di pintu pagar saat memasuki sekolah.

Program salam-salaman diharapkan dapat menjadi contoh baik bagi semua warga sekolah dan berdampak positif bagi perkembangan peserta didik. Dampak positif yang diharapkan adalah membangun hubungan baik antar warga sekolah, meningkatkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan rasa hormat, dan meningkatkan kedisipilinan. Selain itu bersalaman antar warga sekolah juga diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menanamkan nilai-nilai sosial.

Bersalaman antara guru dan peserta didik dapat menciptakan hubungan yang baik antar warga sekolah  yaitu mempererat ikatan emosional antara guru dan peserta didik, membuat peserta didik merasa lebih nyaman dan dihargai oleh gurunya.

Sapaan hangat dari guru saat bersalaman dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta didik,  terutama bagi peserta didik yang pemalu atau merasa kurang percaya diri. Peserta didik bersalaman dengan guru mengajarkan peserta didik untuk menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua dari mereka.

Bersalaman menjadi salah satu bentuk rutinitas yang baik dan perlu dilakukan untuk membantu peserta didik terbiasa dengan kedisiplinan karena guru dapat memantaunya setiap hari. Bersalaman yang dilakukan dengan tulus dapat menciptakan suasana kelas yang hangat, kondusif dan mendukung proses pembelajaran. Salam-salamana yang dilakukan dengan rutin mengajarkan peserta didik tentang pentingnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Saat bersalaman perlu memperhatikan tata cara bersalaman yaitu menyampaikan salam dengan senyuman dan tatapan mata yang ramah, memperhatikan etika dan budaya yang berlaku dalam masyarakat, pastikan tangan dalam kondisi bersih sebelum bersalaman.

Budaya bersalaman di sekolah merupakan investasi jangka panjang yang sangat berharga. Melalui tindakan sederhana ini, kita dapat membangun generasi muda yang memiliki karakter yang kuat, berprestasi, dan mampu bersosialisasi dengan baik. Mari kita terus mendorong dan mempertahankan tradisi baik ini agar sekolah menjadi tempat yang nyaman, menyenangkan, dan inspiratif bagi semua. (Abusyix)

Minggu, 27 Oktober 2024

Merokok Identik dengan Menghisap Racun

Merokok, merupakan suatu kebiasaan yang begitu lumrah di masyarakat, ternyata menyimpan bahaya yang sangat serius bagi kesehatan. Di balik kepulan asap yang dianggap keren dan menenangkan, tersembunyi ribuan zat kimia berbahaya yang dapat merusak tubuh secara perlahan. Lebih dari sekadar kebiasaan buruk, merokok sebenarnya adalah tindakan kriminal yang terselubung terhadap diri sendiri dan orang lain.

Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, di antaranya nikotin, tar, dan karbon monoksida. Nikotin adalah zat adiktif yang sangat kuat, menyebabkan ketergantungan yang sulit dicari penawarnya. Tar merupakan zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker paru-paru, tenggorokan, mulut, dan berbagai jenis kanker lainnya. Sementara itu, karbon monoksida mengganggu pengangkutan oksigen dalam darah, sehingga organ-organ tubuh kekurangan oksigen.

Selain merusak kesehatan fisik, merokok juga berdampak buruk pada kesehatan mental. Nikotin dapat mengganggu fungsi otak, menyebabkan kesulitan konsentrasi, penurunan daya ingat, dan meningkatkan risiko depresi. Dengan kata lain, merokok tidak hanya membuat tubuh sakit, tetapi juga membuat pikiran menjadi kacau dan tumpul.

Merokok seringkali dikaitkan dengan citra kebebasan dan kemandirian. Padahal, kenyataannya adalah merokok membuat seseorang menjadi budak nikotin. Para perokok seringkali merasa kesulitan untuk berhenti merokok, meskipun mereka tahu bahwa kebiasaan ini sangat berbahaya.

 Selain itu, merokok juga merupakan tindakan yang tidak sopan dan tidak bertanggung jawab. Asap rokok mengandung ribuan partikel berbahaya yang dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan orang lain, terutama anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

Ada anggapan bahwa tembakau yang terkandung dalam rokok memiliki khasiat obat. Memang, beberapa senyawa dalam tembakau memiliki sifat anti-inflamasi dan analgesik. Namun, kandungan nikotin dan zat-zat berbahaya lainnya dalam rokok jauh lebih dominan dan efeknya jauh lebih buruk daripada manfaatnya.

Dampak merokok terhadap kesehatan sangatlah luas dan beragam, mulai dari penyakit ringan hingga penyakit kronis yang mengancam jiwa. Beberapa dampak merokok yang paling umum adalah:

  1. Penyakit paru-paru: Kanker paru-paru, bronkitis kronis, emfisema, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  2. Penyakit jantung dan pembuluh darah: Serangan jantung, stroke, aterosklerosis.
  3. Kanker: Kanker mulut, tenggorokan, esofagus, kandung kemih, dan pankreas.
  4. Gangguan pernapasan: Batuk kronis, sesak napas, infeksi saluran pernapasan atas.
  5. Masalah gigi dan mulut: Penyakit periodontal, bau mulut, perubahan warna gigi.
  6. Gangguan kulit: Penuaan dini, kulit kusam, dan kerutan.
  7. Gangguan reproduksi: Disfungsi ereksi pada pria, gangguan menstruasi pada wanita, dan risiko keguguran.

Pencegahan merokok adalah upaya yang sangat penting untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok. Berikut adalah beberapa solusi ditawarkan agar dapat dilakukan antara lain:

  1. Pendidikan: Memberikan edukasi tentang bahaya merokok kepada anak-anak sejak dini.
  2. Penerapan peraturan: Menetapkan larangan merokok di tempat umum dan meningkatkan penegakan hukum terhadap pelanggar.
  3. Kampanye anti-rokok: Melakukan kampanye yang masif untuk mengubah persepsi masyarakat tentang merokok.
  4. Peningkatan akses layanan berhenti merokok: Menyediakan layanan konseling dan pengobatan untuk membantu para perokok berhenti.

Merokok adalah sebuah kejahatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk membenarkan kebiasaan buruk ini. Mari kita bersama-sama melawan bahaya rokok dan menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok.

Peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah merokok. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya dengan tidak merokok. Selain itu, masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para perokok yang ingin berhenti.

Jika anda adalah seorang perokok, jangan ragu untuk mencari bantuan untuk berhenti merokok. Banyak program dan layanan yang tersedia untuk membantu Anda mengatasi kecanduan nikotin. Ingatlah, anda tidak hanya seorang diri perjuangan ini. Ada ribuan pecandu lainnya yang ingin keluar dari kecanduan nikotin. (Abusyix)


Selasa, 22 Oktober 2024

Manfaat Hidup Sederhana ala Rasulullah

Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Meskipun beliau merupakan seorang nabi dan rasul utusan Allah, beliau tidak pernah menunjukkan sikap angkuh, sombong dan berlebihan dalam segala hal. Beliau malah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu hidup sederhana, bersyukur atas segala yang dimiki, dan selalu mengingat akhirat.

Hidup sederhana dalam Islam bukan berarti hidup dengan penuh kesusahan atau berada di bawah garis kemiskinan. Hidup sederhana adalah suatu pilihan agar kita tidak terjebak dalam kehidupan yang materialitik dan selalu merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Dengan hidup sederhana, kita dapat lebih konsentrasi pada ibadah dan beramal, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan membantu sesama makhluk ciptaan Allah.

Banyak ayat suci Al-Qur'an dan hadits yang menganjurkan agar umat Islam untuk hidup sederhana. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. 
Alqur;an Surah Al-Isra’ ayat 27: Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak dapat membelah bumi dan kamu tidak dapat menyamai gunung-gunung tingginya.”
QS. Al-A’raf ayat 31: Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”  
Dalam Hadist Riawayat Bukhari dan Muslim: Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya, “Dunia laksana perhiasan, dan seindah-indah perhiasan dunia yaitu perempuan shalihah.”

Nabi Muhammad SAW telah memberikan cukup banyak contoh nyata tentang kehidupan sederhana. Beberapa contohnya adalah Rasulullah SAW selalu mengenakan pakaian yang sederhana dan suci. Beliau tidak pernah menggunakan pakaian yang mewah seperti batu permata. Rasulullah SAW sangat sederhana dalam hal makanan. Beliau sering makan makanan yang sederhana dan bergizi, seperti kurma,gandum, dan susu. Selain itu, Rumah Rasulullah SAW sangat sederhana. Beliau tidak memiliki rumah dan perabotan yang megah. Dalam melakukan perjalanan, Rasulullah SAW biasanya berjalan kaki atau menunggang unta untuk bepergian. Beliau tidak pernah menggunakan kendaraan yang mewah.

Hidup sederhana memiliki banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Beberapa di antaranya adalah menumbuhkan rasa syukur, mendekatkan diri kepada Allah, menjaga kesehatan, menjaga lingkungan, dan membantu sesama.

Dengan hidup sederhana, kita akan lebih mudah mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan. Ingatlah bahwa selalu ada orang yang memiliki lebih sedikit dari kita. Ini akan membuat kita lebih menghargai apa yang sudah kita miliki. Bersyukur atas nikmat kesehatan, keluarga, dan kemampuan yang kita miliki. Bandingkan dengan orang-orang yang sedang berjuang dengan masalah yang lebih besar.

Hidup sederhana dapat membantu kita agar lebih fokus pada ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hidup sederhana bukan hanya sekadar gaya hidup, tetapi juga menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan mengurangi keterikatan pada duniawi dan fokus pada hal-hal yang lebih penting, kita dapat lebih khusyuk dalam beribadah dan merasakan kehadiran-Nya.

Hidup sederhana dapat mencegah serta mengelola stres dan membantu menaja kesehatan jasmani dan rohani. Gaya hidup sederhana berkaitan erat dengan tingkat stres yang lebih rendah. Kurangnya tuntutan materi dan gaya hidup yang cepat dapat memberikan ketenangan pikiran.Orang yang hidup sederhana lebih memilih makanan segar dan alami dibandingkan makanan olahan. Hal ini dapat meningkatkan asupan nutrisi dan mengurangi risiko penyakit kronis. Orang yang hidup sederhana lebih dapat berinteraksi dengan sesama teman, sehingga menumbuhkan hubungan sosial yang kuat. Interaksi sosial yang kuat  dapat meningkatkan kesehatan mental.

Hidup sederhana dapat mengurangi konsumsi sumber daya alam dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Gaya hidup sederhana mendorong kita untuk lebih bijak dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Dengan mengurangi konsumsi yang berlebihan, dengan sendirinya kita mengurangi permintaan terhadap sumber daya alam. Ketika kita membeli lebih sedikit barang, maka produksi sampah akan berkurang. Penumpukan sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang serius.

Dengan hidup sederhana, kita dapat lebih banyak bersedekah dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Dengan mengurangi pengeluaran untuk hal yang tidak terlalu penting, kita memiliki lebih banyak uang yang bisa disisihkan untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Hidup sederhana membantu kita lebih menghargai apa yang kita miliki dan menyadari bahwa tidak semua orang memiliki keberuntungan yang sama. Hal ini dapat meningkatkan empati dan mendorong kita untuk lebih peduli terhadap sesama.

Hidup sederhana merupakan ajaran Islam yang sangat penting dilaksanakan. Dengan hidup sederhana, kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Mari kita teladani kehidupan Rasulullah SAW dan menerapkan nilai-nilai kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. (Abusyix)

Senin, 21 Oktober 2024

PMM: Antara Beban Administrasi dan Transformasi Kinerja Guru

Platform Merdeka Mengajar (PMM) menjadi sorotan yang sangat tajam seiring dengan penerapan perubahan kebijakan terkait pengelolaan kinerja kepala sekolah dan guru. Kebijakan terbaru yang mengharuskan guru dan kepala sekolah untuk menggunakan fitur pengelolaan kinerja yang ada di dalam PMM. Pengelolaan kinerja di PMM bertujuan untuk menyederhanakan proses dan meningkatkan efektivitas penilaian kinerja.

Namun, di balik upaya tersebut, muncul kekhawatiran dan kecemasan akan semakin bertambahnya beban kerja dan administrasi kepala sekolah dan guru. Banyak kepala sekolah dan guru mengeluhkan akan tuntutan untuk mengumpulkan sertifikat dan memenuhi berbagai indikator kinerja justru dapat mengalihkan fokus mereka dari tugas utama sebagai pendidik.

Surat Edaran Nomor 0559/B.B 1/GT.02.00/2024 dari Kemendikbudristek memberikan arahan yang lebih jelas dan rinci terhadap penggunaan PMM. Sekarang, fitur-fitur seperti pelatihan mandiri dan refleksi kompetensi sifat tidaklah wajib, namun pengelolaan kinerja bagi semua guru ASN dan kepala sekolah ASN tetap menjadi kewajiban yang harus dikerjakan. Sekarang PMM menitik beratkan pada pengelolaan kinerja kepala sekolah ASN dan guru ASN.

Menurut Adifyan Rahmat Asga dari Tim Kerja Substansi Pengelolaan Kinerja Kemendikbudristek, tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengintegrasikan sistem pengelolaan kinerja yaitu dengan memusatkan data kinerja di PMM, proses pelaporan dan evaluasi menjadi lebih efisien. Selain itu, PMM dirancang untuk mengurangi beban administrasi: dengan menyederhanakan proses pengisian SKP dan memberikan rekomendasi indikator yang relevan. PMM juga dirancang untuk meningkatkan kualitas kinerja. Di PMM tersedia indikator yang jelas, guru diharapkan agar dapat lebih berkonsenterasi pada peningkatan kualitas pembelajaran bagi peserta didik dan pengembangan dirinya..

Walaupun terdapat banyak kegunaan fitur-fitur yang ada di PMM, implementasi kebijakan ini juga menghadapi beberapa tantangan dan rintangan. Diantaranya, beberapa guru masih merasa terbebani dengan tuntutan untuk mengumpulkan sertifikat dan memenuhi berbagai indikator kinerja. Selain itu, terkendala dengan akses internet yang belum dapat diakses dengan merata. Ketersediaan perangkat digital di daerah-daerah juga dapat menghambat penggunaan PMM secara optimal, dan membutuhkan waktu bagi guru untuk menyesuaikan diri dengan sistem pengelolaan kinerja yang baru.

Untuk meminimal hambatan seperti disebutkan di atas, ada banyak altertanatif dapat dilakukan antara lain 1) Perlu memberi pemahaman yang lebih mendalam kepada guru mengenai tujuan dan manfaat PMM, serta cara penggunaannya yang efektif, 2) Indikator kinerja perlu terus dievaluasi dan disesuaikan agar lebih relevan dan tidak memberatkan guru, 3) Pemerintah perlu memastikan ketersediaan akses internet yang lancer dan perangkat digital yang memadai di seluruh sekolah, 4) Program pengembangan profesional guru perlu dirancang untuk mendukung pemanfaatan PMM secara optimal.

PMM memiliki harapan besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, kepala sekolah dan guru itu sendiri. Dengan komunikasi yang baik dan kolaborasi yang erat, diharapkan PMM dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendukung pengembangan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran. (Abusyix)

Minggu, 20 Oktober 2024

SMP Negeri 1 Nisam Antara, Mutiara Terpendam di Pedalaman Aceh Utara

SMP Negeri 1 Nisam Antara Kabupaten Aceh Utara, sebuah lembaga pendidikan formal yang telah lama berkontribusi besar dalam mencerdaskan generasi muda. Sekolah ini memiliki sejarah panjang yang patut diteladani. Didirikan pada tahun 1994 atas inisiatif Geuchik Gampong Alue Dua, Ilyas Khuna,yang pada saat itu masih berada dalam Kecamatan Nisam. SMP Negeri 1 Nisam Antara telah berkembang dengan pesat dari sebuah lembaga pendidikan formal sederhana menjadi salah satu sekolah favorit di wilayah tersebut.

Di tahun pertama berdirinya, SMP Negeri 1 Nisam Antara hanya mempunyai 10 orang guru dan 2 orang staf yang bertatus tenaga bakti. Dengan keterbatasan guru dan staf,  sekolah terus berjuang dan berinovasi untuk memberikan pendidikan terbaik untuk peserta didiknya. Kesungguhan kepala sekolah, para guru dan dukungan masyarakat akhirnya membuahkan hasil. Pada akhir tahun 1994, SMP Negeri 1 Nisam Antara mulai mendapatkan 3 orang guru PNS. Dengan demikian, semakin meningkatnya kualitas pembelajaran yang diperoleh peserta didik.

Salah satu prestasi gemilang yang pernah diraih oleh SMP Negeri 1 Nisam Antara adalah ketika sekolah ini berhasil meraih status sebagai sekolah berstandar nasional pada tahun pelajaran 2011/2012. Prestasi ini membuktikan bahwa sekolah ini mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya di tingkat nasional.

Seiring dengan perkembangan zaman, SMP Negeri 1 Nisam Antara terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Saat ini, sekolah menerapkan kurikulum merdeka untuk seluruh jenjang kelas. Selain itu, sekolah juga telah membudayakan berbagai kegiatan positif seperti salam-salaman saat masuk sekolah, yasinan pada hari Jumat pagi, dan senam pagi pada hari Sabtu. Pembiasaan-pembiasaan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, nyaman, dan kondusif bagi proses belajar mengajar.

SMP Negeri 1 Nisam Antara dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mendukung proses belajar mengajar, seperti ruang kelas yang memadai, ruang komputer, laboratorium IPA, dan perpustakaan. Selain itu, sekolah juga memiliki halaman yang luas dan asri, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.

Saat ini, SMP Negeri 1 Nisam Antara dipimpin oleh Ibu Cut Yusna. Di bawah kepemimpinannya, sekolah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan yang terbaik bagi para peserta didiknya. Seperti yang telah diketahui bahwa Ibu Cut Yusna merupakan salah seorang pengajar praktik bagi calon guru penggerak di Kabupaten Aceh Utara. Dengan demikian kemampuan untuk membina dan membimbing guru tidak perlu diragukan lagi.

Dengan sejarah yang panjang, prestasi yang membanggakan, dan dukungan dari berbagai pihak, SMP Negeri 1 Nisam Antara memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi sekolah yang lebih maju dan unggul. Ke depannya, diharapkan sekolah ini dapat terus berinovasi dan melahirkan generasi muda yang cerdas, berkarakter sesuai dengan profil pelajar pancasila yang Islami, dan berprestasi. (Abusyix)

Sabtu, 19 Oktober 2024

Pentingnya Platform Merdeka Mengajar bagi Guru Non-PNS

Platform Merdeka Mengajar (PMM) dicetus sebagai suatu media belajar yang sangat bermanfaat bagi semua guru, termasuk guru non-PNS. Pada artikel ini, akan dijelaskan beberapa alasan tentang pentingnya PMM bagi guru non-PNS.

PMM menyediakan sumber belajar belajar yang lengkap, terdiri dari modul ajar, modul Projek, video tutorial, sampai contoh-contoh praktik baik yang dilakukan guru. Kesemuanya bermaksud untuk meningkatkan  pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Guru non-PNS dapat mengakses sumber-sumber belajar tersebut dengan mudah untuk memperkaya materi pembelajaran mereka. PMM merupakan tempat yang nyaman untuk mendapatkan sumber belajar yang melimpah.

PMM memberikan kebebasan kepada guru untuk belajar sesuai waktu yang dimilikinya dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian, guru non-PNS dapat mengembangkan diri kapanpun yang diinginkan, sehingga guru non-PNS dapat mengikuti pelatihan maupun webinar tanpa harus terikat dengan waktu yang dijadwalkan.

PMM merupakan wadah berkumpul para guru untuk berkolaborasi dan berbagi pengetahuan dan temuan lapangan sesama guru lain baik dari sekolah yang sudah akreditasi A maupun sekolah yang belum terakreditasi yang ada di nusantara. Guru non-PNS dapat berdiskusi untuk bertukar pendapat dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

PMM dirancang oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) khusus untuk mendukung guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Guru non-PNS akan bisa memiliki panduan dan dukungan yang komprehensif dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka di sekolah.

PMM dapat menjadi sarana pengembangan kompetensi dan peningkatan professional guru. Terdapat banyak fitur di PMM yang dapat membantu guru non-PNS mengembangkan berbagai kompetensi yang diperlukan. Di PMM guru dapat mengembangkan kompetensi pedagogik, sosial emosional dan teknologi.  Demikian juga dengan guru non-PNS dapat meningkatkan kompetensinya dan menjadi guru yang lebih berkualitas di mata peserta didiknya.

Secara singkat, PMM memberikan banyak manfaat bagi guru non-PNS, yaitu memperkaya pengetahuan dan keterampilan pedagogik, memudahkan akses terhadap sumber belajar yang sesuai, dan memfasilitasi kolaborasi dengan guru lain. PMM juga dapat mendukung implementasi Kurikulum Merdeka dan meningkatkan profesionalisme dan kualitas pembelajaran di sekolah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PMM bukan hanya sekadar platform, tetapi juga menjadi teman setia yang tidak pernah marah bagi guru non-PNS. sehingga dapat memudahkan guru non-PNS dalam mengembangkan diri dan memberikan yang terbaik bagi peserta didik. PMM memberi kesempatan yang sama bagi semua guru, baik PNS maupun non-PNS. (Abusyix)

Jumat, 18 Oktober 2024

Kemendikbudristek Perkuat Kapasitas Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan

Jakarta - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif, aman dan nyaman untuk seluruh peserta didik. Untuk memenuhi hal tersebut, Kemdikbudristek melaksanakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan untuk Regional 1.

Pelatihan yang diikuti oleh ratusan peserta dari beberapa provinsi di Sumatera ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dan Satuan Tugas (Satgas) dalam mencegah dan menangani tindak kekerasan dan pelecehan di satuan pendidikan. Materi pelatihanyang diberikan berpedoman pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 yang memberikan rujukan dan panduan lengkap terkait penanganan kekerasan dan pelecehan di lingkungan satuan pendidikan.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemdikbudristek, Rusprita Putri Utami, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tingginya angka kekerasan dan pelecehan di satuan pendidikan. Data menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang mengalami perundungan dan kekerasan seksual. "Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi alternatif solusi efektif dalam mengatasi masalah ini," ujar Rusprita.

TPPK dan Satgas memiliki peran yang sangat penting dalam rangka pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan. Saat ini, hampir seluruh satuan pendidikan di Indonesia telah memiliki TPPK. Dengan diadakannya pelatihan ini, diharapkan para pengurus TPPK dan Satgas dapat lebih proaktif dalam menghadapi berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan.

Para peserta pelatihan mendukung sepenuhnya inisiatif Kemendikbudristek ini. Amna Zalifa, salah seorang peserta dari LBH Apik Aceh, mengatakan bahwa materi yang disampaikan sangat bermanfaat. "Dengan peningkatan kapasitas ini, saya yakin TPPK akan lebih responsif dalam menangani kasus kekerasan," ungkapnya.

Kemendikbudristek berkomitmen untuk terus berupaya menciptakan lingkungan belajar di satuan pendidikan aman dan bebas dari tindak kekerasan dan pelecehan. Melalui berbagai program dan pelatihan, Kemendikbudristek berharap dapat mewujudkan generasi muda yang berkualitas dan berkarakter.

Setelah pelatihan ini berakhir, Kemendikbudristek akan menggelar pelatihan yang sama di berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Harapannya, seluruh satuan pendidikan di Indonesia dapat memiliki kapasitas yang sama dalam menangani kasus kekerasan. (Abusyix)

Kamis, 17 Oktober 2024

SMP Negeri 7 Sawang Aceh Utara: Permata Pendidikan di Tanah Rencong

Di pelosok yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota, berdiri dengan megah SMP Negeri 7 Sawang Kabupaten Aceh Utara. Salah satu lembaga pendidikan formal jenjang menengah pertama yang tidak hanya mencetak peserta didik berprestasi, namun juga meraih mimpi. Sekolah yang dapat mewujudkan jiwa pemimpin masa depan. Dengan jiwa gotong royong khas Aceh, sekolah ini menjadi rumah bagi peserta didik yang bermimpi meraih bintang.

Setiap sudut SMP Negeri 7 Sawang menyimpan kisah inspiratif. Pohon-pohon penghijauan dan pohon durian yang merupakan ikon Sawang menjadi saksi bisu perjalanan sekolah. Selain itu, yang tak kalah serunya setiap  ruang kelas yang dipenuhi tawa dan semangat belajar yang tinggi.

SMP Negeri 7 Sawang memiliki Laboratorium Sains yang lengkap. Di sini, peserta didik diajak menjelajahi dunia sains dengan eksperimen-eksperimen seru dan menggugah keingintahuannya. Laboratorium yang lengkap dan modern membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan berkesan bagi semua peserta didik.

SMP Negeri 7 Sawang juga memiliki perpustakaan yang mengundang mimpi.  Rak-rak buku yang penuh sesak dengan berbagai judul dari berbagi bidang pengetahuan seolah-olah mengajak peserta didik untuk berpetualang ke dunia lain. Perpustakaan ini adalah taman tempat bermain bagi para pecinta buku.

Kegiatan ekstrakurikuler yang membentuk karakter juga ada di SMP Negeri 7 Sawang. Dari klub olahraga yang inovatif hingga sanggar seni yang kreatif. Peserta didik bebas mengeksplorasi minat dan bakatnya. Kegiatan ekstrakurikuler bukan hanya mengasah keterampilan, namun juga membentuk karakter yang kuat sesuai Profil Pelajar Pancasila yang Islami.

SMP Negeri 7 Sawang diasuh oleh guru-guru yang inspiratif. Para guru di  SMP Negeri 7 Sawang bukan hanya pengajar, tetapi juga sahabat bagi peserta didik.. Mereka selalu siap memberikan dukungan dan motivasi untuk meraih cita-cita tinggi bukan sekedar mimpi.

Peserta didik SMP Negeri 7 Sawang telah mengharumkan nama sekolah di Pekan Olahraga Pelajar Daerah Aceh (POPDA) dengan meraih berbagai prestasi membanggakan, terutama di  Cabang bulu tangkis dan tenis meja. Pada POPDA Tahun 2024 di Aceh Timur, Peserta didik sekolah ini ikut menyumbang medali untuk Kabupaten Aceh Utara.

Pada tahun 2024 juga, peserta didik sukses mementaskan  Tarian Jugi Tapa. Tarian ini terinspirasi dari cerita lagendaris Jugi Tapa di Sawang  Aceh Utara. Cerita Jugi Tapa mengisahkan tentang seorang murid yang durhaka pada sang gurunya, yang tentunya tidak perlu ditiru oleh peserta didik.

Di bidang keagamaan peserta didik di  SMP Negeri 7 Sawang diperkenalkan dengan program Realita (Religius Lintas Tauhid). Program realita diwujudkan dengan mengajarkan peserta didik Surah Kitab Kuning. Program ini dijalankan dengan tujuan memperkenalkan pendidikan dayah di sekolah, sehingga terwujudnya peserta didik yang mampu memahami isi kitab kuning. Dengan demikian peserta didik akan menjalan syariat Islam secara kaffah sesuai  julukan  Propinsi Aceh sebagai Serambi Mekkah.

SMP Negeri 7 Sawang memiliki keinginan yang teguh menjadi sekolah yang unggul dan berkarakter, serta berdaya saing di tingkat nasional. Sekolah akan terus berinovasi dalam meningkatkan mutu pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan globalisasi.

SMP Negeri 7 Sawang Kabupaten Aceh Utara bukan sekadar sekolah umum pada umumnya. Sekolah ini adalah tempat di mana mimpi-mimpi indah menjadi kenyataan. Potensi Peserta didik dikembangkan  dan persahabatan diciptakan. Dengan semangat juang yang tinggi  bak Srikandi Aceh Cut Nyak Dhien sekolah ini terus dipoles secantik mungkin. Berkat dukungan dari semua pihak, SMP Negeri 7 Sawang akan  terus berkembang dan menjadi  idamam dan kebanggaan masyarakat Aceh pada umumnya dan Aceh Utara khususnya. (Abusyix)

Jumat, 11 Oktober 2024

Kendala dalam Meningkatkan Partisipasi Guru di Komunitas Belajar Sekolah

Komunitas Belajar (Kombel) telah terbukti menjadi wadah yang efektif bagi guru untuk mengembangkan kompetensi dalam rangka meningkatkan pembelajarannya. Kombel dapat dijadikan sebagai sarana untuk berbagi praktik baik dan berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, ada kendala yang dihadapi kombel dalam melakukan kegiatannya yaitu kurangnya partisipasi aktif dari para guru. Artikel ini mencoba membahas beberapa akar permasalahan atas kurangnya partisipasi guru serta solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pertisipasi guru dalam Komunitas Belajar (Kombel).

Berdasarkan wawancara lepas dengan beberapa guru yang mengajar di jenjang SMP terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya partisipasi guru dalam Kombel antara lain 1) Guru seringkali merasa terbebani dengan tugas administratif dan persiapan pembelajaran sehingga sulit untuk meluangkan waktu bagi kegiatan Kombel, 2) Beberapa guru masih menganggap bahwa Kombel tidak memberikan manfaat langsung bagi pekerjaan mereka atau tidak relevan dengan kebutuhan mereka, 3) Kurangnya dukungan dari kepala sekolah atau pengawas dapat menghambat partisipasi guru dalam Kombel, 4) Kegiatan Kombel yang monoton atau kurang menarik dapat mengurangi minat guru untuk berpartisipasi. 

Untuk mengatasi kendala tersebut di atas, guru yang diwawancarai juga menawarkan beberapa alternatif solusi dapat diterapkan, antara lain 1) Menjadikan kegiatan Kombel sebagai program wajib, sekolah dapat memastikan bahwa semua guru memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, 2) Melibatkan seluruh komponen sekolah, termasuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru, dalam perencanaan dan pelaksanaan Kombel, 3) Menciptakan suasana Kombel yang menyenangkan, kolaboratif, dan saling mendukung, bukan saling menjatuhkan, 4) Tawarkan berbagai macam kegiatan Kombel yang menarik dan relevan dengan kebutuhan guru, seperti studi kasus, workshop, atau kunjungan ke sekolah lain, 5) Kepala sekolah atau pengawas sekolah perlu memberikan apresiasi atau penghargaan kepada guru yang aktif berpartisipasi dalam Kombel, 6) Pastikan guru memiliki akses terhadap sumber daya dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung kegiatan Kombel.

Guru sebagai anggota aktif dalam Kombel memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru antara lain 1) Guru harus menjadi contoh bagi peserta didik dengan menunjukkan sikap yang reflektif, inovatif, dan kolaboratif, 2) Guru dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka dengan sesama guru melalui Kombel, 3) Guru perlu memberikan umpan balik yang konstruktif kepada sesama guru untuk membantu mereka meningkatkan kualitas pembelajaran, 4) Guru harus terbuka terhadap ide-ide baru dan bersedia untuk mencoba hal-hal yang berbeda.

Meningkatkan partisipasi guru dalam kegiatan Kombel adalah langkah penting untuk mewujudkan sekolah yang berkualitas. Dengan menerapkan alternatif solusi yang telah dijelaskan di atas, diharapkan partisipasi guru dalam Kombel dapat meningkat secara signifikan sehingga berdampak positif pada kualitas pembelajaran di sekolah. (Abusyix)

Rabu, 02 Oktober 2024

Perspektif Guru Tentang Tantangan dan Solusi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka telah diluncurkan pelaksanaannya secara nasional oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim pada tanggal 11 Februari 2022. Kurikulum ini diyakini dapat menjadi inovasi dalam dunia pendidikan. Kurikulum Merdeka menawarkan fleksibilitas dan otonomi yang lebih besar bagi guru dalam merancang pembelajaran. Faktanya, guru seringkali mendapat berbagai rintangan dan hambatan, terutama dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep baru yang termaktub dalam Kurikulum Merdeka itu sendiri.

Salah satu rintangan yang dihadapi oleh banyak guru  adalah dalam menerjemahkan Capaian Pembelajaran (CP) menjadiYujuan Pembelajaran (TP) yang konkret dan relevan. Banyak guru masih terbiasa dengan struktur kurikulum sebelumnya. Guru kesulitan untuk mengidentifikasi materi esensial yang perlu diajarkan. Hal ini menyebabkan materi yang disampaikan belum sepenuhnya sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang ingin dicapai. Untuk mengatasi hal tersebut guru perlu menganalisis kebutuhan peserta didik dengan memahami karakteristik dan kebutuhan masing-masing peserta didik sehingga guru dapat merancang pembelajaran yang lebih personal dan bermakna. Selain itu, guru dituntu untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan pembelajaran. Modul ajar yang disusun harus dapat disesuaikan dengan perkembangan dan minat siswa.

Pembelajaran yang berdiferensiasi merupakan salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka. Kenyataannya, belum semua guru merasa nyaman dengan model pembelajaran ini. Keterbatasan akses terhadap sumber belajar yang bervariati, terutama terkait dengan teknologi, menjadi kendala utama.

Alternatif Solusi yang dapat dilaksanakan guru adalah dengan mengidentifikasi profil peserta didik, memanfaatkan teknologi dan mengikuti pelatihan baik secara mandiri maupun komunitas.  Mengindentifikasi karakter peserta didik guru dapat memahami gaya belajar, tingkat pemahaman, dan minatnya, demikian guru dapat memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didiknya. Pemanfaatkan Teknologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform online untuk mencari referensi, contoh pembelajaran, dan alat-alat bantu pembelajaran lainnya. Sedangkan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar (Kombel) atau mengikuti webinar dapat membantu guru meningkatkan kompetensinya dalam merancang pembelajaran yang efektif.

Kurikulum Merdeka juga memfokuskan pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai salah satu komponen penting. P5 bertujuan untuk mengembangkan karakter peserta didik sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Namun, dalam pelaksanaannya, guru seringkali menghadapi kendala dalam mengorganisir dan mengelola projek ini.

Melihat kedala dan hambatan yang dihapi guru perlu kiranya diadakan program pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka. Pemerintah dan sekolah perlu menyediakan akses yang lebih mudah bagi guru terhadap berbagai sumber belajar, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Selain itu, Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Implementasi Kurikulum Merdeka merupakan sebuah proses yang kompleks dan membutuhkan waktu. Guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan kurikulum ini. Dengan dukungan yang memadai dan upaya yang terus-menerus, diharapkan Kurikulum Merdeka dapat mewujudkan tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkarakter. (Abusyix)

Sabtu, 28 September 2024

SMP Negeri 1 Muara Batu Menuju Sekolah Sehat

SMP Negeri 1 Muara Batu sedang berbenah dan menata diri menjadi sekolah yang lebih sehat dan nyaman bagi semua warga sekolah. Upaya ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya lingkungan belajar yang bersih dan mendukung kesehatan siswa, guru, serta seluruh warga sekolah.

Menurunnya kesadaran akan kebersihan lingkungan, kurangnya perhatian terhadap kesehatan diri, dan kebiasaan jajan tidak sehat menjadi perhatian utama. Melalui program sekolah sehat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa dan warga sekolah akan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Tujuan akhir dari program ini adalah menciptakan sekolah yang bersih, sehat, dan menjadi contoh bagi sekolah lainnya.

Program sekolah sehat yang dilaksanakan ini sesuai dengan tuntutan dari peraturan dan perundang-undangan yang berhunungan langsung dengan peningkatan kesehatan peserta didik. Ada beberapa indikator yang yang diharapkan yaitu sekolah bersih bebas dari sampah, memiliki sirkulasi udara yang  baik dan mencukupi. Siswa terbiasa makan makanan sehat, minum air putih, dan berolahraga secara teratur. Siswa terbiasa mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan diri.

Untuk mencapai tujuan program sekolah sehat di SMP Negeri 1 Muara Batuu,sekolah melakukan upaya-upaya seperti melaksanakan sosialiisasi, mengadakan lomba kebersihan kelas,  dan pembinaan karakter.Sekolah juga memperbaikan toilet, penyediaan tempat sampah yang memadai, dan pembuatan kantin sehat. Upaya lain yaitu melalui kegiatan piket kelas, penanaman tanaman obat keluarga, dan pembuatan pupuk kompos. Namun, yang sangat penting adalah kolaborasi dengan orang tua yaitu dengan mengadakan pertemuan rutin dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak.

Setiap program yang dilaksanakan selalu mengalami hambatan dan tantangan. Salah satu hambatan yang sangat menantang adalah mengubah pola jajan peserta didik yang sudah membudaya yaitu suka makan jajanan yang kurang hugienis. Untuk mengatasi hal ini, sekolah bekerja sama dengan kantin untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi. Selain itu, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi konsumsi makanan anak di rumah.

Program sekolah sehat yang menjadi program perioritas SMP Negeri 1 Muara Batu Kabupaten Aceh Utara merupakan aksi nyata dalam menciptakan generasi muda yang sehat dan cerdas. Dengan dukungan dari semua warga sekolah, program ini diharapkan dapat berlangsung dengan sukses dan memberikan manfaat yang besar bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat. (Abusyix).

Rabu, 25 September 2024

Dinas Pendidikan Aceh Utara Dorong Penguatan Kurikulum Merdeka

Aceh Utara – Dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMP, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Jamaluddin, S.Sos., M.Pd., memberikan arahan terkait penguatan implementasi Kurikulum Merdeka.

Jamaluddin menyampaikan bahwa meskipun sudah banyak sekolah yang melaksanakan kurikulum merdeka pada tahun pelajaran 2024/2025, namun kualitas implementasinya masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, beliau mendorong para kepala sekolah untuk lebih aktif melibatkan guru penggerak dalam kegiatan pengembangan profesionalisme guru, baik di sekolah yang dipimpinnya maupun antar sekolah.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara terus mendorong implementasi Kurikulum Merdeka. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas, Jamaluddin, dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) jenjang SMP yang digelar di SMP Negeri 7 Sawang, Rabu (25/9).

Jamaluddin mengungkapkan bahwa meskipun secara kuantitas hampir semua satuan pendidikan di Aceh Utara telah menerapkan Kurikulum Merdeka, namun secara kualitas masih perlu ditingkatkan. Salah satu indikatornya adalah pembelajaran yang belum sepenuhnya berpusat pada peserta didik.

Untuk mengatasi hal ini, Jamaluddin menekankan pentingnya penguatan kapasitas pendidik melalui komunitas belajar. Beliau juga menyoroti pentingnya pembelajaran dan asesmen yang bervariasi serta pembelajaran yang berdiferensiasi.

"Guru penggerak harus lebih aktif mengimbas di sekolahnya masing-masing," tegas Jamaluddin.

Selain itu, Jamaluddin juga menyampaikan bahwa satuan pendidikan di Aceh Utara memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum satuan pendidikan berdasarkan kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian. Beliau juga menekankan pentingnya menyediakan layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Dalam kesempatan yang sama, Jamaluddin juga memperkenalkan "Seri Belajar Bersama", sebuah inovasi baru di Platform Merdeka Mengajar yang dapat digunakan oleh komunitas belajar untuk meningkatkan kapasitas guru. (Abusyix)

Kamis, 19 September 2024

Pendidik Ideal: Reflektif, Gemar Belajar, Berbagi, dan Berkolaborasi

Pendidik yang ideal tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga memiliki karakteristik yang mendukung proses pembelajaran yang efektif. Profil pendidik yang diharapkan daam kurikulum merdeka adalah mereka yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi.

Pendidik reflektif senantiasa mengevaluasi praktik pengajarannya. Mereka tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Melaksanakan refleksi secara rutin dan berkala, pendidik dapat mengidentifikasi akar masalah yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Perbaikan pembelajaran perlu dilakukan terus-menerus tanpa henti.

Dalam melakukan refleksi kadang kala pendidik sulit untuk mengevaluasi diri secara objektif dan keterbatasan waktu seringkali menjadi hambatan. Untuk itu pendidik perlu mengalokasikan waktu khusus untuk refleksi, gunakan jurnal refleksi, dan minta umpan balik dari rekan sejawat atau kepala sekolah.

Pendidik yang ideal adalah gemar belajar atau pembelajar sepanjang hayat. Mereka terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai cara, seperti pelatihan, pendidikan profesional, dan membaca literatur pendidikan. Saat ini pengetahuan terus berkembang dengan pesat dan terjadi pembaruan setiap saat.

Kesibukan tugas sehari-hari seringkali menyulitkan pendidik untuk meluangkan waktu belajar. Jadi, pendidik perlu membuat jadwal belajar yang konsisten, manfaatkan sumber belajar online, dan prioritaskan pelatihan yang relevan.

Pendidik yang berbagi tidak hanya menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri, tetapi juga aktif menyebarluaskannya kepada rekan sejawat melalui berbagai cara, seperti workshop, menulis artikel di media online, atau forum diskusi di komunitas belajar.

Kurangnya motivasi dan rasa enggan untuk berbagi dengan rekan kerja yang mungkin tidak terbuka terhadap masukan menjadi kendala dalam berbagi. Bangun budaya berbagi yang positif di lingkungan kerja, gunakan platform yang mendukung kolaborasi, dan komunikasikan manfaat berbagi pengetahuan bisa jadi alternatif pemecahan kendala tersebut.

Pendidik yang berkolaborasi bekerja sama dengan rekan sejawat dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kolaborasi ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih bervariatif.

Kendala yang mungkin muncul dalam berkolaborasi adalah mengelola dinamika kelompok dan konflik yang mungkin muncul selama kolaborasi. Namun kendala tersebut bisa diatasi dengan menetapkan peran dan tanggung jawab yang jelas dalam tim, fasilitasi komunikasi terbuka, dan adakan sesi tanya jawab untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Pendidik yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi adalah aset berharga bagi dunia pendidikan. Dengan terus mengembangkan diri dan bekerja sama dengan rekan sejawat, pendidik dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan inspiratif bagi peserta didik.

Untuk mewujudkan profil pendidik ideal, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kepala sekolah, pengawas sekolah, Dinas Pendidikan/Pemerintah, dan masyarakat. Dukungan ini dapat berupa penyediaan fasilitas belajar yang memadai, kesempatan pengembangan profesional, dan apresiasi atas kontribusi pendidik. (Abusyix)

Selasa, 17 September 2024

Kepemimpinan Kepala Sekolah: Pilar Utama Komunitas Belajar di Sekolah

Kepala sekolah berperan sebagai jantung dari satu sekolah. Kepemimpinan yang kuat dan visioner dari kepala sekolah menjadi kunci keberhasilan dalam membangun dan mengembangkan komunitas belajar yang dinamis di sekolah tersebut. Mengapa demikian? Beberapa alasan mengapa kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam mengembangkan Komunitas Belajar di sekolah dapat diuraikan sebagai berikut.

Visi dan Misi yang Jelas:
Kepala sekolah yang telah merumuskan visi dan misi yang jelas bersama guru tentang pembelajaran akan mampu menginspirasi guru dan staf. Guru dan staf akan  bekerja sama menuju tujuan yang sama. Visi ini harus sejalan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan pendidikan terkini.

Membudayakan Budaya Belajar: 
Kepala sekolah berperan dalam menciptakan budaya sekolah yang mendorong semangat belajar terus-menerus, baik bagi guru maupun siswa. Budaya belajar yang inovatif akan mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif untuk berbagi ide, berkolaborasi, dan berkemband dalam komunitas.

Fokus pada Pengembangan Profesional Guru:
Kepala sekolah yang berkomitmen pada pengembangan profesional guru akan menyediakan berbagai peluang bagi guru untuk meningkatkan kompetensinya. Komunitas belajar yang solid dan kompak akan menjadi tempat bagi guru dan staf untuk saling belajar dan berkolaborasi untuk berbagi pengalaman.

Membangun Kepercayaan dan Kolaborasi:
Kepala sekolah yang mampu membangun kepercayaan dan hubungan yang baik dengan semua anggota sekolah akan menciptakan iklim kerja yang positif dan kolaboratif. Kepercayan dan Kolaborasi antara guru, staf, dan peserta didik adalah kunci keberhasilan dalam membangun komunitas belajar di sekolah.

Menjadi Role Model:
Kepala sekolah harus menjadi contoh bagi guru dan siswa dalam hal semangat belajar, inovasi, dan kepemimpinan. Aksi nyata berbagi praktik baik kepala sekolah akan lebih berdampak daripada sekedar kata-kata.

Memberikan Dukungan yang Cukup:
Kepala sekolah perlu memberikan dukungan yang cukup dalam bentuk sumber daya, waktu, dan fasilitas untuk kegiatan komunitas belajar. Dukungan yang konsisten akan mendorong guru untuk lebih aktif terlibat dalam komunitas belajar.

 

Aksi Nyata Kepala Sekolah dalam Mengembengkan Komunitas Belajar

Mengadakan pertemuan rutin: Menyediakan waktu khusus untuk pertemuan komunitas belajar secara berkala.

Memfasilitasi kegiatan pengembangan profesional: Mengorganisir pelatihan, workshop, atau studi banding untuk guru.

Menciptakan ruang fisik yang mendukung: Menyediakan ruang yang nyaman dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk kegiatan komunitas belajar.

Mendorong inovasi: Memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen dengan metode pembelajaran yang baru.

Memberikan umpan balik yang konstruktif: Memberikan umpan balik yang membangun kepada guru untuk meningkatkan praktik pembelajaran mereka.

Merayakan keberhasilan:  Kepala sekolah perlu mengakui dan memberi penghargaan atas kontribusi setiap anggota komunitas belajar.

Tantangan dan Alternatif Solusinya

Kurangnya waktu: Kepala sekolah seringkali memiliki banyak tugas dan tanggung jawab di luar sekolah. Alternatif solusi: Kepala sekolah memrioritaskan kegiatan komunitas belajar dan mendelegasikan tugas-tugas lain yang memungkinkan dilaksanakan oleh wakil kepala sekolah atau guru yang sesuai bidang tugas.

Resistensi dari guru: Beberapa guru mungkin enggan untuk terlibat dalam komunitas belajar. Alternatif solusi: Libatkan guru dalam perencanaan kegiatan, berikan dukungan yang memadai, dan tunjukkan manfaat dari komunitas belajar.

Kurangnya sumber daya: Sekolah mungkin memiliki keterbatasan sumber daya. Alternatif solusi: Cari alternatif sumber daya, seperti memanfaatkan teknologi atau bekerja sama dengan komite dan orang tua siswa atau bekerja sama dengan komunitas lain di luar sekolah.

Kepemimpinan kepala sekolah merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun komunitas belajar yang efektif. Dengan visi yang jelas, dukungan yang kuat, dan tindakan yang nyata, kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif, kolaboratif, dan berpusat pada siswa. Komunitas belajar yang solid akan memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan. (Abusyix)

Sabtu, 14 September 2024

Tanggapan Guru tentang Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka yang dicanangkan oleh Nadiem Makarim telah membawa perubahan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan kemampuan siswa secara holistik, dengan fokus pada pembelajaran yang aktif, berpusat pada siswa, dan relevan dengan kehidupan nyata. Namun, dalam praktik nyata di sekolah, para guru masih banyak  menghadapi tantangan dan hambatan, guru juga berusaha untuk menemukan berbagai solusi.

Proses Pembelajaran yang Lebih Menarik

Salah satu kelebihan dan keunggulan Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru berupaya menciptakan suasana belajar yang aktif dan kontekstual sesuai dengan kondisi di lingkungan siswa, di mana siswa tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan.

Pembelajaran berdiferensiasi juga menjadi sorotan dalam Kurikulum Merdeka. Guru menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga perlu adanya penyesuaian metode dan materi pembelajaran. Melalui proyek-proyek kelompok dan aktivitas yang bervariasi, siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu inovasi dalam Kurikulum Merdeka. P5 ini bertujuan untuk mengembangkan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Namun, dalam pelaksanaannya, guru masih terus mencari cara yang efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap pembelajaran.

Asesmen yang Lebih Holistik

Kurikulum Merdeka juga membawa perubahan pada sistem asesmen. Asesmen formatif dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Asesmen sumatif digunakan untuk mengukur pencapaian siswa di akhir periode pembelajaran, sedangkan asesmen otentik menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang relevan dengan kehidupan nyata.

Penilaian keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas juga menjadi bagian penting dalam Kurikulum Merdeka. Guru mendorong siswa untuk menggunakan portofolio dan refleksi diri untuk menunjukkan perkembangan kemampuan mereka.

Tantangan dan Solusi

Meskipun Kurikulum Merdeka menawarkan banyak manfaat, para guru juga menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasinya. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memfasilitasi pembelajaran yang aktif dan kontekstual bagi semua siswa. Selain itu, guru juga perlu menyesuaikan metode dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan dan karakter yang beragam dari siswa.

Tantangan lainnya adalah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran. Guru perlu menemukan cara yang praktis untuk menggabungkan nilai-nilai tersebut dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari di kelas.

Dalam hal asesmen, guru menghadapi kesulitan dalam mendesain dan mengukur keterampilan praktis siswa. Selain itu, mengatur asesmen yang sesuai untuk setiap siswa juga menjadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, guru telah melakukan berbagai upaya. Beberapa di antaranya adalah memulai dengan aktivitas pembelajaran yang sederhana, menggunakan asesmen awal untuk mengetahui titik awal kemampuan siswa, serta mengikuti pelatihan dan memanfaatkan teknologi yang relevan. Guru juga mengembangkan rubrik penilaian yang terperinci dan melakukan kolaborasi dengan guru mata pelajaran lain.

Kesimpulan

Kurikulum Merdeka diharapkan dapat membawa perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan. Meskipun masih banyak tantangan yang perlu diatasi, para guru terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi siswa. Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Kurikulum Merdeka dapat mewujudkan tujuannya untuk menciptakan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan dan perubahan di masa depan. (Abusyix)

Selasa, 10 September 2024

Menyusun Perangkat Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka: Tantangan dan Solusi

Penyusunan perangkat pembelajaran merupakan langkah krusial dalam proses belajar-mengajar. Kurikulum Merdeka dengan fleksibilitasnya memberikan otonomi yang lebih besar kepada guru dalam merancang pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi siswa. Namun, dalam praktiknya, guru seringkali menghadapi berbagai tantangan dalam menyusun perangkat pembelajaran yang efektif.

Tahapan Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Proses penyusunan perangkat pembelajaran umumnya mencakup beberapa tahap, yaitu:

  1. Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP): Menganalisis kurikulum, menentukan CP yang spesifik, dan merumuskan kompetensi yang harus dicapai siswa.
  2. Perancangan Alur Pembelajaran: Mengidentifikasi tema dan topik, memetakan materi, dan mengembangkan alur pembelajaran yang menarik.
  3. Penyusunan Strategi Pembelajaran: Memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai, serta menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
  4. Perancangan Asesmen: Merancang asesmen formatif dan sumatif untuk memantau dan mengukur pencapaian siswa.
  5. Pengembangan Bahan Ajar: Memilih sumber belajar yang relevan dan menyusun modul ajar yang menarik.
  6. Penilaian Otentik: Mengembangkan rubrik penilaian dan mengimplementasikan penilaian yang otentik.
  7. Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Merancang kegiatan pembelajaran yang dapat mengembangkan semua aspek profil pelajar Pancasila.
  8. Refleksi dan Revisi: Melakukan evaluasi dan revisi terhadap perangkat pembelajaran.
  9. Kolaborasi dan Pengembangan Profesional: Bekerja sama dengan rekan sejawat dan mengikuti pengembangan profesional.

Tantangan yang Dihadapi Guru

Dalam menerapkan Kurikulum Merdeka, guru seringkali menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Pemahaman CP yang luas: CP dalam Kurikulum Merdeka bersifat lebih luas dan fleksibel, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam kompetensi konkret yang harus dicapai siswa.
  • Pembelajaran berdiferensiasi: Mengakomodasi kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa yang beragam merupakan tantangan, terutama dalam kelas yang besar.
  • Integrasi Profil Pelajar Pancasila: Menggabungkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran sehari-hari membutuhkan contoh konkret dan panduan yang jelas.
  • Keterbatasan sumber daya: Keterbatasan akses terhadap bahan ajar yang berkualitas dan teknologi dapat menghambat proses pembelajaran.
  • Perbedaan pemahaman terhadap Kurikulum Merdeka: Tidak semua guru memiliki pemahaman dan komitmen yang sama terhadap Kurikulum Merdeka.

Solusi yang Dilakukan Guru

Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru telah melakukan beberapa upaya, seperti:

  • Mengikuti pelatihan dan bergabung dalam Komunitas : Guru mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka dan berdiskusi dengan rekan sejawat dalam Komunitas untuk meningkatkan pemahaman.
  • Menggunakan asesmen diagnostik: Guru melakukan asesmen diagnostik di awal semester untuk mengetahui kemampuan dan minat siswa.
  • Menggabungkan kegiatan sehari-hari: Guru menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa untuk memperkuat nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.
  • Membuat rubrik penilaian yang jelas: Guru membuat rubrik penilaian yang jelas dan membahasnya dengan siswa agar siswa memahami kriteria penilaian.
  • Memanfaatkan sumber daya lokal: Guru memanfaatkan sumber daya manusia dan lingkungan sekitar untuk mendukung pembelajaran.
  • Kolaborasi dengan rekan sejawat: Guru bekerja sama dengan rekan sejawat yang memiliki komitmen yang sama terhadap Kurikulum Merdeka.

Kesimpulan

Penyusunan perangkat pembelajaran di era Kurikulum Merdeka memang penuh tantangan. Namun, dengan komitmen yang kuat, dukungan dari berbagai pihak, serta upaya yang terus-menerus, guru dapat mengatasi tantangan tersebut dan menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. (Abusyix)